Jumat, 13 Oktober 2017

 

DISKUSI BERSAMA KBMB & LKP2M UIN MALIKI MALANG “Dialektika Arah Pembangunan Negara Indonesia Selama 6 Masa Kepemimpinan Menuju Indonesia Emas 2045”





           Ambisi_10/10/2017 forum diskusi di gedung B lantai 1 bagian utara UIN MALIKI MALANG merupakan forum yang sederhana namun bernuansa sangat hangat antara pemateri dan audien, terlebih dengan bergabungnya para mahasiswa LKP2M yang juga sangat antusias dalam mengikuti jalannya diskusi. Materi disampaikan oleh Gus Muazzin jurusan Psikologi sebagai pemateri pertama kemudian dilanjutkan oleh Kak Arif Rahman jurusan Pendidikan Agama Islam sebagai pemateri kedua.
Diawali dengan pemateri yang pertama yaitu menjelaskan tentang alasan mengapa topik yang dibahas adalah “Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Indonesai menuju Indonesia Emas 2045” yang sejatinya pada tahun 2045 bangsa Indonesia telah genap berusia 100 tahun. Oleh karena itu, jika kita ingin melihat kondisi Indonesia di masa depan maka kita harus melihat kondisi pemuda pada hari ini. Peradaban modern memang banyak dipelopori oleh para kaum pemuda, akan tetapi anggapan bahwa pemuda adalah pemimpin masa depan itu tidaklah benar. Tetapi yang lebih tepat yaitu bahwa  pemuda dalah pemimpin hari ini. Jadi, hal-hal kecil sebagai pemuda yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan pembangunan Indonesia, Pertama ketika kita ingin adanya pembaharuan pada suatu negara, apa yang menjadi potensi; minat; dan bakat yang kita miliki harus dikembangkan. Meskipun potensi yang kita miliki hanya beberapa atau sedikit tetapi jika kita mau mengembangkannya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan ketika kita dapat berkontribusi kepada masyarakat biarpun itu kecil maka percayalah pasti akan berdampak besar kedepannya. Kedua, kita dapat berkolaborasi antara potensi-potensi yang kita miliki sehingga akan diperoleh penemuan-penemuan baru yang bermanfaat. Ketiga, pemuda haruslah mempunyai rasa peduli terhadap suatu konflik disekelilingnya karena dari situlah diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi tersebut. Indonesia emas (golden age) 2045 tidak akan tercapai jika kita hanya memiliki cita-cita yang besar tetapi hanya diam tanpa melakukan tindakan untuk merealisasikannya. Jika kita tidak bisa menghadapi zaman, maka bersiaplah untuk sengsara di masa depan.
       Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi kedua oleh kak Arif Rahman  mengenai persiapan yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk menuju Indonesai emas (Golden Age) 2045. Menurutnya aspek penting yang menjadi pokok utama yang harus dipersiapkan bangsa Indonesia untuk menuju indonesia emas 2045 yaitu aspek bidang pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa majunya suatu negara dpat dilihat dari SDM (sumber daya manusia) yang tedapat di suatu negara tersebut. Apabila suatu negara tersebut mempunyai SDM yang tinggi, maka dapat dipastikan negara tersebur tergolong negara maju dan bukan lagi negara yang masih berkembang. Dan untuk mendapatkan SDM yang tinggi tentulah suatu negara harus mampu memperbaiki sistem pendidikan yang diterapkan dinegaranya. Nah maka dari itulah, Indonesia yang sekarang ini tergolong negara yang masih berkembang harus mampu mewujudkan perubahan untuk menjadi Indonesia emas 2045 yang dimulai dari sekarang dengan memperbaiki sistem pendidikan Indonesia menjadi lebih baik demi terwujudnya cita-cita bangsa yang adil dan makmur untuk kesejahteraan Indonesia. (fah)
AMBISI...!
Semangat Meraih Mimpi
Semangat Mengukir Prestasi
BIDIKMISI...!
Semakin Terdepan
Share:

Senin, 09 Oktober 2017

 

SAMUDRA (cipta: Alifia Rahmawati Ramadhani/Biologi 2015 )


Berada di tempat yang tak kau inginkan bukanlah hal yang buruk. Ya, aku hanya perlu percaya itu dan semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja seperti saat matahari terbit dari timur-pertanda ini belum berakhir-.
            Kalau tidak demi mulyanya patuhi perintah orang tua, Aku benar-benar tak mau berada disini. Tempat yang jauh dari ibuku yang penyayang meski kadang cerewetnya minta ampun ,. Dari Bapak yang humoris tapi disiplin. Dan dari jerapah. Hehehe:D jangan salah paham dulu, Jerapah itu panggilan buat adikku. Tingginya 162 cm tapi siapa sangka umurnya masih 12 tahun. Aku rindu kalian.
            Semuanya berawal dari kedatangan Paman Yos ke rumah kami karena urusan pekerjaan. Daripada menginap di hotel, ayah meminta kakaknya itu untuk menginap di rumah kami saja, sekalian silaturrahmi. Seminggu di rumah kami, beliau mungkin telah melihat potensiku dan akhirnya Paman Yos memutuskan membiyayai sekolahku, beliau sendiri yang memilihkan sekolah untukku dan sayangnya Paman memilihkanku sekolah di Luar kota.
“Sayang sekali Rahma jika anak sepertimu hanya sekolah di SMA terfavorit se-Kota, harusnya kamu masuk di SMA terfavorit se- Indonesia dong!”, Kata paman.
---

Seharusnya tempat ini bisa buatku bahagia, bagaimana tidak? Di tempat ini aku tak perlu menegeluarkan receh untuk beli apapun kebutuhanku. Aku hanya perlu terus menjadi murid berpretasi disini dan mematuhi peraturan asrama. Semua telah terpenuhi, kecuali jiwaku.
            Sejak hari pertama masuk sekolah ini, aku merasa semuanya aneh. Mulai dari muridnya yang bergaya ala super model, wajah horor milik kebanyakan guru, dan tempat tertentu yang sepi alias jarang ada siswa. Tapi,Sam. Diantara cowok-cowok dengan wangi yang membuat cewek-cewek lengket dan penampilan yang selalu modis. Badan Sam kurus tinggi dengan kacamatanya yang sampai-sampai sepert tebal pantat botol. Tapi jangan bayangkan dia seperti anak culun. Sorot matanya tajam.
            Tidak kusangka, Sam si Aneh ini ternyata anak jenius. Tak ada nilai pelajarannya berangka 9. Semuanya 10. Perfect! Aku hanya menggeleng-nggelengkan kepala melihat seluruh nilai sempurnanya di papan nilai. Belum lagi tujuh piala yang berhasil diborongnya sebulan ini. Pernah sekali aku melihatnya tersenyum ketika dia bersama Bu Darma. Ia terlihat manis sekali. Saat itulah rasanya waktu berhenti sesaat, hatiku tenang ,tapi jantungku terus berdegup kencang.Dag. . .Dig. . .Dug. . . Perasaan apa ini?
            Tiba-tiba, tanganku lemas. Brok! Buku-buku dalam boponganku jatuh berserakan. Kedua manusia di depanku terkejut dan menatapku. Sam hanya menatapku aneh, memasukan kedua tangan dalam sakunya, lalu berlalu meninggalkanku. Aku tak memedulikannya. Segera kupunguti buku-bukuku. Dengan cekatan, Bu Darma membantuku. Bu Darmalah satu-satunya guru berwajah ramah di sekolahku. Senyuman manis selalu menghiasi wajahnya. Akupun tak kalah manis membalas senyumannya dan berterimakasih.Dengan mengumpulkan segenap keberanianku, kucoba menanyakan sesuatu tentang Sam. Bu Darma hanya tertawa terbahak-bahak. Ah! Ini benar-benar tidak lucu pikirku. Aku malu. Pipiku memerah. Apakah aku salah bertanya?
---
                                                           
            Hari ini aku datang ke sekolah paling awal. Melancarkan misiku duduk bersebelahan dengan bangku Sam.Ya! Mengikuti saran Bu Darma. Menurutnya, Sam sebenarnya anak yang manis dan penolong. Siapa tahu dengan dekat dengannya, nilai-nilaiku yang pahit bisa berubah menjadi manis.
            Bel masuk berdentang berkali-kali. Sam duduk di sebelah bangkuku, sesuai rencanaku. Ku sapa dia dengan senyuman. Tak ada respon. Dia cuek dan malah sibuk dengan jam tangan hasil karyanya.
            Kucoba lirik jam tangannya. Jam tangan yang penuh tombol. Baru kali ini aku melihat jam tangan aneh. Seaneh penemunya. Melihatku, Sam buru-buru menyambunyikan tangan tempat melingkarnya jam aneh itu. Aku segera kembali ke posisi awal. Huh! Menyebalkan! Kini aku tak yakin rencanaku akan berhasil.
            Tiba waktu istirahat. Aku masih penasaran semua tantang Sam. Dia terburu keluar kelas. Aku harus segera membuntutinya. Tiba di taman belakang, Sam menghilang. Aku terus mengitari taman sepi itu, berharap Sam berada dibalik semak-semak tebal.
            “He! Kamu membuntuti aku ya!”, Hardik suara dari atas. Aku terkaget-kaget dan mendongak ke atas. Tampak Sam sedang duduk santai di atas pohon di kelilingi sarang burung. Aku hanya melongo. Bepikir apa yang sedang dilakukannya di atas sana.
            “Hem... Malah melongo!”,tambahnya dengan tersenyum kecut. Dia mencoba menuruni pohon dengan sarang burung di tangan kirinya. Sarang burung itu kini ia letakan di atas semak-semak tebal.
            “Aku disini karena aku percaya tempat ini mengerti perasaanku. Bahkan burung-burung kecil ini. Ketika aku kemari, burung-burung kecil ini yang selalu menghiburku. Mereka bersahut-sahutan bernyanyi untuku.”,aku mencoba menjadi pendengar yang baik. Tanpa kuminta lagi ia telah menceritakan semua tentangnya kepadaku.
            Benar-benar diluar dugaanku. Dia merawat burung-burung kecil ini dengan telaten. Layaknya sorang induk merawat anak-anaknya.”Kasihan burung ini, dia ditinggal orang tuanya mencari makan. Maka dari itu, aku mencoba menghiburnya dengan datang kemari sebagai sesama anak yang sedang kesepian ditinggal induknya.”
            Aku bingung harus merespon apa? Oh Tuhan. . . Aku baru tahu bahwa Sam adalah anak yang kesepian.
            “Kamu tahu? Ini adalah burung gereja. Burung ini juga bisa kok makan beras……”
            Sam terus mengoceh, aku hanya memandanginya. Namun pikiranku bukan tentang apa yang diomelkan Sam. Tapi tentang penderitaan yang Sam alami.
            Sejak kejadian di taman itu, aku menjadi dekat dengan Sam. Karena pangajaranya juga, kini nilaiku terus meningkat. Pelajaran favorit yang diajarkannya padaku adalah fisika. Ia menjelasakan kepadaku dengan energi yang meledak-ledak. Karena memang ia ahli bidang fisika. Terimakasih Sam!
Ia juga menceritakan fungsi tombol-tombol pada jam tangan yang sempat kukatai “aneh”. Ternyata jam tangannya mempunyai banyak fungsi. Diantaranya adalah mendeteksi akan datangnya hujan bahkan merekam suara. Sebenarnya, ia ingin membuat jam tangan yang bisa mengembalikan dia ke masa lalu yang diinginkan. Namun, nampaknya ia belum juga berhasil.
            Sam pernah bercerita, ia ingin sekali kembali ke masa lalunya bersama kakeknya. Merawat bunga-bunga, memberi makan kelinci peliharaannya, bermain tembak-tembakan. ”Mungkin bagimu itu moment-moment yang konyol dan tidak ada artinya. Namun bagiku itu semua sangat berarti bagiku. Namun kini kakekku sedang tersenyum bahagia di surga. Meskipun aku punya  orang tua yang kini menetap di prancis, namun bagiku kakekkulah orang tuaku.” Aku masih teringat kata-katanya. Langsung menusuk jantungku.
Sam, aku selalu berharap suatu hari nanti kau bisa hidup bahagia. Aku tak ingin senyuman kesedihanmu kembali terbit di wajahmu. Kamu adalah orang tegar yang pernah aku temui Sam. Kamu tak pernah menangis, kamu selalu menghadapi kesedihanmu dengan senyuman. Aku percaya Tuhan punya rencana indah yang DIA simpan untuk kamu Sam.
Pagi itu ia memberi makan anak burung gereja yang kini tumbuh dua kali lebih besar dari pertama kali aku melihatnya. Beras dalam tadahan tangannya kini berubah warna menjadi merah. Sam terus tersenyum melihat anak-anak burung gereja yang terbang indah di angkasa. Sementara ia tak sadar darah segar mengalir dari hidungnya. 
Aku memberitahu Sam dia sedang mimisan. Kusodorkan tissue dari sakuku. Sam tertawa ,”Sudah Faras, kamu tidak perlu khawatir berlebihan gitu dong! Ini kan Cuma mimisan biasa.”. Aku tetap tidak percaya dengan omongan Sam, wajahnya lemas tak bertenaga. Matanya sayu, ia pusing dan mulai memegang kepalanya. Firasatku buruk.
Brok! Manusia kokoh itu kini jatuh tersungkur tak berdaya di tanah. Bunga-bunga seperti layu, daun-daun berjatuhan, dan langit meneteskan air matanya. Aku berteriak histeris meminta tolong. Badan Sam kugoncang-goncangkan berharap dia akan terbangun. Air mata ini tak kuasa kubendung. Aku menangis terisak-isak. Tak lama datang bantuan dari teman-teman.
---
Kupandangi dia dibalik kaca ruang ICU. Sam terlihat lemah tak berdaya dengan infus di pergelangan tanganya dan alat bantu pernafasan udara. Sam, penderitaan apa lagi yang menimpa manusia tak berdosa seperti dirimu? Ya Tuhan, jika kau perkenankan. Gantikan aku yang berbaring diatas sana. Tak tega kumelihat sahabatku yang hidupnya penuh penderitaan kini sedang kesakitan.
Selang satu minggu Sam masih di rawat di rumah sakit. Ia masih belum tersadar dari komanya. Kini aku yang menggantikan Sam merawat burung gereja yang sedih ditinggal sahabatnya.
Tiba-tiba, Bu Darma menghampiriku menyampaikan berita bahagia.”Sam sudah sadar!Dia ingin bertemu kamu.”. Tanpa basa-basi lagi Bu Darma menggandengku menuju rumah sakit. Terimakasih Tuhan! Telah engkau sadarkan sahabatku dari komanya.
Tiba di rumah sakit, kulihat Sam masih memakai alat bantu pernafasanya. Aku segera berlari dengan berurai air mata bahagia mendatanginya. Senyuman manis itu kembali terbit di wajahnya. Ku ungkapkan segala rasa bahagiaku melihatnya kembali membuka mata. Sam melebarkan senyumnya
.”Fa..ras..ka..ka..mu..ja..ngan..ce..pat..menye..rah..ya”,katanya sambil menyodorkan surat untuku. Aku mengiyakan dan berjanji tidak akan cepat menyerah.
Tiiiiiiiittt…..
 Tiba-tiba suara pendeteksi detak jantungnya berbunyi horor. Darahku memanas, tak percaya Dia kini pergi meninggalkan aku. Aku menangis terisak –isak, mataku berkunang-kunang. Aku lemas dan tak sadarkan diri.
                                                            ---
Kuperhatikan seluruh isi ruangan ini. Tampak seorang berwajah keibuan sedang mengelus dahiku. Dia tersenyum melihatku terbangun dari tidurku. Dia, Bu Darma! Ia menyodorkan surat yang pernah disampaikan oleh sahabatku. Aku baru teringat, surat itu belum kubaca. Ku buka perlahan-lahan surat dari Sam.
Hei faras!kamu sedang apa sekarang?
Hei!jangan lupa kasih makan burung gerejanya ya!
Kamu tahu tidak? Aku kemarin bermimpi bertemu kakekku. Aku bahagiaaa sekali!
Kini kebahagiaanku telah datang. Terimakasih ya telah menjadi sahabatku yang selalu setia!
Jangan pernah menyerah ya!Hidup ini indah bila senyuman selalu menghiasi wajahmu.
Semangat ya Faras!Aku ingin melihatmu nanti menjadi wanita luar biasa…
Kelak..dari surga..

Kututup surat Sam. Samudra yang begitu luas, yang mampu menerima segala derita.


Share:
 

Menuju Mandiri Teknologi, LSO INFOKOM KBMB Adakan Pelatihan Mulmed

Menuju Mandiri Teknologi, LSO INFOKOM KBMB Adakan Pelatihan Mulmed

Hidup di era modern, sedikit banyak orang harus terlibat dalam kecanggihan teknologi, media sosial dan sejenisnya. Terlebih sebagai mahasiswa masa kini yang mempunyai tuntutan bergelut dalam teknologi. Sebagai mahasiswa bidikmisi yang berkemampuan dalam bidang akademik dan non akademik, pengurus Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi(KBMB) khususnya LSO INFOKOM mengadakan suatu pelatihan yang lagi- lagi menyinggung teknologi. Kali ini (Minggu, 08/10/17) pelatihan multimedia (mulmed) yang dilaksanakan di ruang 220 gedung B itu dihadiri oleh para anggota dan pengurus KBMB. Setiap agenda yang digelar oleh LSO INFOKOM (informasi dan komunikasi) ini terkait dengan teknologi. “Fundamental Design Corel Draw”, itulah topik yang diusung kali ini yang berindikasi pada mahasiswa bidikmisi diharapkan bisa menguasai ilmu IT walaupun sekedar dasar- dasarnya. Seperti yang dijelaskan oleh Nanda Aida selaku pemateri, “alasan mengapa mengambil tema ini yaitu agar mahasiswa bidikmisi bisa membuat design sendiri tanpa meminta bantuan atau bergantung pada orang lain”, begitu kata Nanda Aida yang merupakan anggota dari LSO Infokom. Meski ia masih mengenyam di bangku perkuliahan saat ini, tetapi bekal ilmunya bisa bermanfaat untuk ditularkan pada teman- teman KBMB. Masalah sebagai pemateri, ia tak merasa lebih pandai dari teman- teman, “dulu di SMK juga pernah belajar bidang ini, jadi kalau sekarang dianggap pemateri bukan sih, mungkin lebih ke tutor saja. Karena di forum ini kita sama- sama belajar, ketika ada yang tanya ya dijawab”, tuturnya.

Rasa antusias mengikuti pelatihan ini terlihat jelas di wajah- wajah para peserta. Salah satu peserta dari maba menyampaikan kesungguhannya dalam kegiatan ini, “senang sekali bisa berkesempatan ikut nimbrung dalam pelatihan mulmed, karena saya ingin bisa dan terus belajar. Harapan saya ya tentunya harus diadakan pelatihan- pelatihan selanjutnya, kalo cuma sekali kan ya sayang banget, mumpung masih bisa belajar bersama”, ungkap Eko Junaidi, maba jurusan manajemen. Tepat pukul 12.15 WIB pelatihan berakhir dengan sesi foto bersama. (hid) 
Share:
 

LPJ, Salah Satu Bentuk Pembelajaran di KBMB

LPJ, Salah Satu Bentuk Pembelajaran di KBMB

“In the long run, we shape our lives, and we shape ourselves. The proses never ends until we die, and the choices we make are ultimately our own responsibility”
-Eleanor Roosevelt-
Pembelajaran akan pentingnya tanggung jawab ini kiranya yang berusaha diterapkan oleh organisasi Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (KBMB) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal ini terlihat dengandiadakannya kegiatan forum laporan pertanggungjawaban (LPJ)Team Work Penyambutan Wisuda Periode September 2017 yang dilaksanakan tanggal 05 Oktober 2017 kemarin. Kegiatan yang berlangsung di Kantor KBMB ini merupakan bentuk pertanggangjawaban dari pelaksana penyambutan wisuda kepada Badan Pengurus Harian KBMB. Menurut ketua umum KBMB, Sahlan Roy Martua Hasibuan, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan memberikan pembelajaran kepada generasi KBMB selanjutnya. “supaya mereka bisa belajar dan melakukannya dengan lebih baik tahun depan”ujar Roy.
Berdasarkan Surat Keputusan KBMB nomor 018/SK.004/PH.KBMB/A/ VIII/2017 tentang pengangkatan dan pengesehan Team Work Penyambutan Wisuda, tim ini memiliki tiga tugas pokok, yakni melakukan pengarakan Wisudawan/Wisudawati anggota KBMB, Mengarsipkan skripsi Wisudawan/Wisudawati Anggota KBMB, dan mengkoordinir tasyakuran Wisudawan-Wisudawati Anggota KBMB. Namun, dalam pelaksanaanya, tim ini hanya bisa melaksankan tugas pada poin pertama. Dalam kesempatan itu, Rudy Hadi Subagja selaku koordinator menuturkan bahwasannya hal ini terjadi karena singkatnya waktu persiapan yang diberikan kepada Team Work Penyambutan Wisuda. “kami hanya punya waktu kurang dari 2 minggu untuk menyiapkan kegiatan ini” jelas Rudy. 
Kurangnya waktu persiapan juga diakui oleh Roy, menurutnya  hal ini disebabkan karena ketidakpastian informasi pelaksanaan wisuda periode september 2017. Namun, roy mengatakan bahwa kurangnya waktu persiapan ini tidak mengurangi esensi dari keberhasilan kegiatan ini. “saya kira mereka (team work Penyambutan Wisuda) sudah sukses memberikan penghargaan kepada kakak-kakak melalui pengarakan ini”ujarnya. Menurutnya, meskipun secara administratif tim ini memiliki tiga tugas pokok, esensi terpenting dari kegiatan ini adalah penghargaan dan apresiasi kepada anggota KBMB yang telah berhasil menuntaskan pendidikan strata satu mereka di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam bentuk pengarakan.
Selain melakukan pengarakan, Team Work wisuda juga melakukan pendataan kepada anggota KBMB yang menjadi peserta wisuda periode September 2017. Tecatat 28 anggota KBMB yang terdata sebagai peserta wisuda periode september 2017, dan 27 diantaranya mendapat predikat “Cum Laud”. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa bidikmisi selalu bisa memberikan prestasi dibidang akademik mereka.
Team Work  Penyambutan Wisuda juga memberikan ucapan selamat dan sukses kepada Wisudawan/Wisudawati anggota KBMB melalui banner yang dipasang besar-besar di gedung B lantai 3 menghadap lapangan UIN. “sengaja kami buat dengan ukuran besar karena kami begitu bangga dengan Wisudawan/Wisudawati dari KBMB” jelas Rudy. [isv]
AMBISI...!
Semangat Meraih Mimpi
Semangat Mengukir Prestasi
BIDIKMISI....!
Semakin Terdepan
Share:

Sabtu, 07 Oktober 2017

 

Awali Oktober dengan Ngaji Literasi

Awali Oktober dengan Ngaji Literasi
(Focus Group Discussion III)

Ambisi_ Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (KBMB) kembali di perkenalkan dengan angkatan senior setelah beberapa pekan lalu kehadiran penggagas Kwikku.com, Ifa Alif K, senior KBMB angkatan 2011. Berbeda dengan Focus Group Discussion(FGD) sebelumnya, FGD ketiga yang berlangsung pada hari Rabu(03/10/17) ini menghadirkan Al Muiz Liddinillah sebagai pemantik nya. Dengan gurauan dan bahasa khas sang pemantik, diskusi yang bertemakan “Tantangan Pejuang Literasi di era Globalisasi” ini telah menyedot tawa para peserta diskusi yang terdiri dari Mahasiswa baru, para pengurus dan anggota Lembaga Otonom KBMB. “Di era globalisasi seperti sekarang ini, literasi menjadi hal yang sangat penting untuk kita. Ya semuanya tinggal kita masing-masing;Mau mati menjadi bangkai atau mati meninggalkan nilai?”,Sebuah pertanyaan menggelitik dari Muiz menjadi prolog apik dalam diskusi kali ini. Sebagai pegiat literasi, Muiz tak hanya menjelaskan tentang bagaimana pengaruh literasi yang dapat meningkatkan nilai tawar dunia kreatifitas dalam pemanfatannya di kehidupan sehari-hari, penulis buku antalogi “Jalan Damai” dan “Mahbub di Mata Sahabat” juga menuturkan sejarah tentang revolusi literasi. Menurutnya, tidak ada “era pakar” saat ini  karena semua sudah berganti dengan era integrasi, artinya satu disiplin ilmu saja tidak cukup untuk memenuhi aktifitas kebutuhan membaca pada diri seseorang.

Tak hanya berbicara tentang literasi, aktivis komunitas Gubuk tulis ini juga menyinggung masalah perkembangan sastra di Indonesia.  Bahwa sastra tak melulu berisi tentang kata-kata yang indah dan mendayu-dayu, namun lebih kepada bagaimana pembaca dapat belajar tentang nilai dan arti sastra sesungguhnya di dalam kehidupan nyata. Penjelasaan dan penggambaran Muiz tentang sastra dan literasi seolah menunjukkan bahwa membaca dunia dapat dilakukan dengan menggeluti kedua bidang tersebut. Tak cukup sampai disitu, peserta diskusi juga diberikan suntikan motivasi untuk terus meningkatkan budaya membaca dan menulis, karena baginya sesuatu tidak akan berarti jika tidak dituliskan, dan apa yang dituliskan tak kan sempurna jika tidak diedit terlebih dahulu untuk nantinya di publish di media.  “Editor yang baik adalah penulis yang baik, penulis yang baik adalah pembaca yang baik.” , tandasnya mengakhri. Tepat pukul 21.15 WIB, diskusi yang di moderatori oleh Mujiono ini akhirnya berakhir dengan sesi foto bersama. Sebagai momen untuk mengawali Oktober yang gencar akan kasus pembangkitan 65 dan juga hari kesaktian Pancasila, Literasi menjadi tema yang tak kalah asik untuk sajian diskusi kali ini. “Diskusi nya asik, dengan pemateri yang seru, ditambah bahasa yang ringan,membuat saya sebagai peserta merasa dapat dengan mudah memahami dan menerima materi yang disampaikan, apalagi temanya seru.” Ujar Sulis, salah satu peserta diskusi pada waktu itu.(nik)

AMBISI!
Semangat Meraih Mimpi, Semangat Mengukir 

Prestasi!
BIDIKMISI!
Semakin terdepan!
Share:

Jumat, 06 Oktober 2017

 

Berproses Untuk Menjadi Yang Lebih Baik Kbmb Vs Pkpba

BERPROSES UNTUK MENJADI YANG LEBIH BAIK
KBMB VS PKPBA

Ambisi_Senin, 02 Oktober 2017 telah berlangsung pertandingan futsal antara tim Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (KBMB) melawan tim dosen Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Perlombaan ini diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unior yang dinamai dengan Unior Cup 2017. Jenis olahraga yang diperlombakan tidak hanya dibidang futsal saja, tetapi juga dibidang yang lain seperti Voli, Basket, Badminton, Sepak takraw, dan Tennis Meja. Unior Cup ini dapat diikuti oleh seluruh  civitas akademika di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bahkan bagi para mahasiswa baru juga bisa ikut dengan mewakili fakultas, jurusan, UKM, atau bahkan MSAA (Ma’had Sunan Ampel Al-‘Ali),sehingga kompetesi ini dijadikan sebagai sarana untuk menyalurkan bakat dan wadah bagi para mahasiswa untuk mengembangkan bakat-bakat yang mereka miliki.
Pada perlombaan kali ini tim KBMB masih berada dibabak penyisihan setelah sebelumnya menaklukkan tim dari HMJ Matematika dengan skor 2-0. Namun sayang  pada babak penyisihan selanjutnya ketika melawan tim PKPBA, tim futsal KBMB yang beranggotakan Lukman, Angga, Adam, Andik, Chazim, Fikri, Teguh, Rozi, serta Subekti ini harus mengakui keunggulan tim lawan dengan skor 1-2. Meskipun dilanda rasa kecewa, para pemain dan supporter tidak merasa bersedih hati dengan hasil yang diperoleh karena mereka telah berusaha semaksimal mungkin dan pantang menyerah untuk memperoleh kemenangan. Bahkan momen ini selain dijadikan ajang bagi para pemain untuk berproses menjadi yang lebih baik, dapat juga dijadikan sebagai momen bagi para Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi untuk mempererat tali persaudaraan atau kekeluargaan antara satu dengan yang lainnya. Terbukti dengan banyaknya dukungan / support yang tak henti-hentinya dari mahasiswa bidikmisi yang lain yang ikut memeriahkan acara perlombaan tersebut. Akan tetapi yang paling penting disini adalah bagaimana para mahasiswa bidikmisi yang mempunyai bakat dibidang futsal memperoleh pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai acuan agar kedepannya bisa lebih baik lagi dan memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. “Diatas langit masih ada langit, nah dari situ kami berjuang untuk menjadi lebih baik”, ujar Lukman selaku koordinator tim. Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini, melainkan diperoleh dengan proses dan tahapan yang tidak mudah. Maka sesungguhnya kegagalanlah yang akan medewasakanmu. “Kami siap untuk menyongsong nama baik KBMB”, tandas Lukman dengan penuh semangat dengan sembari meneriakkan jargon andalan KBMB.  
Tetap semangat team Futsal KBMB..!!! (fah/mon)
AMBISI...!
Semangat Meraih Mimpi,
Semangat Mengukir Prestasi,
Bidikmisi...!

Semakin Terdepan!
Share:

Kamis, 05 Oktober 2017

 

Tantangan Pejuang Literasi ditengah Era Globalisasi

Tantangan Pejuang Literasi ditengah Era Globalisasi

 Diskusi merupakan ajang bertukar pikir yang rasional, sistematis dan konkrit bagi mahasiswa, bertujuan mencari solusi suatu masalah secara teratur dan terarah. Tak terkecuali yang dilakukan Keluarga Besar mahasiswa bidikmisi (KBMB) yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD). pada FGD 3 kali ini (selasa, 3/10) dengan tema " tantangan pejuang Literasi ditengah Era Globalisasi" oleh Al Muiz Liddinillah yang bertempat di gedung b universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dihadiri oleh mahasiswa bidikmisi angkatan 2014-2017.
 Dalam diskusi kali ini penulis buku ontologi "jalan damai kita" menjelaskan perkembangan media informasi dimasa sulit perlu menjadi perhatian khusus. Pemahaman literasi di zaman pasca kebenaran, zaman dimana kebenaran telah di biaskan oleh kesalahan dan kebencian yang terus di produksi. Perlu adanya kegiatan mengkampanyekan virus cerdas bermedia untuk mengangkat hal tersebut. 
Diakhir diskusi penulis buku "Mahbub di Mata Sahabat" juga memberikan solusi langkah cerdas bermedia di dunia maya. Membangun peradaban cerdas di tengah arus media yang ugal-ugalan adalah tanggung jawab semua pihak. (Evn)
AMBISI!!!
Semangat meraih mimpi
Semangat mengukir prestasi
Bidikmisi!!
Semakin terdepan
Share: