UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Jumat, 11 Juni 2021

Bidikmisi, Atau Tidak Sama Sekali

 

 

sumber : https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fcinderamatakehidupan.blogspot.com%2F2014%2F11%2Fmulailah-sekarang-atau-tidak-sama-sekali_20.html&psig=AOvVaw1rInqQmsLn_bwZ6dMHLv__&ust=1623461567851000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwjknt7ht47xAhUYESsKHbWnA8cQr4kDegUIARCXAQ


Mohammad Muhson Al Farizi

Hai pejuang mimpi. Izinkan saya membawakan sepotong kisah yang membawa saya menuju bangku perkuliahan melalui bantuan Bidikmisi. Sekaligus kembali mengingat dan mengingatkan sayasendiri akan tujuan awal yang sempat tertutup oleh kesibukan dan keluh kesah di tengah perkuliahan.

Tahun 2018. Awal saya mengenal lebih jauh tentang Bidikmisi. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat di mana teman-teman saya yang lainnya sibuk-sibuknya dengan organisasi dan lomba-lomba, saya justru berburu informasi sebanyak-banyaknya tentang beasiswa. Bukan hanya Bidikmisi tentunya. Berbekal laptop pinjaman milik salah seorang teman sekelas dan wifi sekolah, saya mengumpulkan data beasiswa selengkap-lengkapnya mulai dari berkas yang harus disiapkan, konsekuensi jika mengambil beasiswa tersebut, hingga fasilitas apa saja yang diperoleh. Tidak kurang dari 10 jenis beasiswa (mungkin lebih) saya korek-korek dan saya identifikasi mana yang lebih cocok dengan kondisi saya.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa Bidikmisilah yang paling mudah dan paling cocok bagi saya. Saat itu juga mulai saya bangun tekad saya bahwa saya tidak akan kuliah jika tanpa Bidikmisi. “Bidikmisi, atau tidak sama sekali,” ungkapku saat itu. Saya pun mulai mengumpulkan berkas apa saja yang diperlukan untuk pendaftaran bidikmisi. Ya meskipun saat itu saya masih kelas 2 SMA. Semua berkas yang diperlukan saya simpan di linimasafacebook tentunya dengan kondisi diprivat.

Saya bersikeras tidak akan kuliah jika tidak mendapatkan Bidikmisi karena beberapa pertimbangan. Salah satunya urusan ekonomi. Toh menurut saya sukses tidak harus kuliah. Ada seribu satu jalan menuju kesuksesan. Jadi daripada misalnya saya tidak mendapatkan Bidikmisi, lebih baik saya tidak kuliah. Karenasaya benar-benar sudah menghitung detail kebutuhan harian saat kuliah di beberapa kota dengan uang saku yang didapat dari Bidikmisi. Lagi-lagi semenjak saya masih kelas 2 SMA. Mulai dari kemungkinan kos atau tempat tinggal paling murah hingga harga makan paling murah yang akan saya temui jika berkuliah di tempat tersebut. Setidaknya ada tiga pilihan saat itu yang memungkinkan. Surabaya, Yogyakarta, dan Surakarta. Ya walaupun akhirnya saya tidak berkuliah di salah satu dari tiga tempat tersebut.

*****

Pendaftaran bidikmisi pun tiba. Saya memulai proses pendaftaran bahkan sebelum disosialisasikan oleh sekolah. Surat, foto, data, dan semua berkas yang dibutuhkan satu persatu saya unggah pada laman Bidikmisi. Pendaftaran berjalan tanpa ada kendala yang berarti. Namun justru rintangannya ada saat pendaftaran dan proses seleksi masuk perguruan tingginya. Mulai dari salah input nilai rapor yang berimbas tidak lolos SNMPTN, terlalu memikirkan pilihan jurusan yang justru menyita waktu belajar dan akhirnya menyebabkan saya ditolak di dua jurusan yang saya pilih saat SBMPTN, hingga seleksi jalur bidikmisi di Telkom University yang juga gagal.

Momen-momen kegagalan ini hampir saja membuat saya putus asa. Hingga pilihan terakhir hanya tersisa jalur mandiri. Parahnya lagi pendaftaran bidikmisi untuk mandiri yang masih buka saat itu tinggal UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebenarnya ada satu lagi yaitu ITB, tapi Bandung salah satu kota yang tidak saya masukkan dalam list kota yang memungkinkan untuk saya berkuliah di sana berdasarkan tingkat harga kebutuhan sehari-harinya.

Saat itu, UINSA dan UINMA memiliki sistem penerimaan bidikmisi yang berbeda. Dengan berbagai pertimbangan dan diskusi bersama orangtua, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di UINMA. Untuk pendaftaran jalur mandiri seluruh pesertanya baik pendaftar Bidikmisi maupun non-bidikmisi dikenakan biaya 300.000 rupiah. Saya mendaftar di hari-hari terakhir pendaftaran. Lebih tepatnya H-2 penutupan.

Masalah kembali muncul. Orangtua saya waktu itu sama sekali tidak memegang uang. Tapi bukannya melarang saya untuk mendaftar, orangtua saya justru menyuruh saya untuk segera mengurus berkas yang belum terpenuhi karena Bidikmisi di UIN sedikit berbeda dengan Bidikmisi di PTN di bawah naungan KEMDIKBUD. Saya pun berangkat menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 25 km dari rumah saya.

Matahari telah melewati titik tertingginya. Berkas-berkas pendaftaran pun sudah terkumpul semuanya. Tinggal menunggu uang untuk pendaftaran. Di sela-sela saya melamun, tiba-tiba terdengar bunyi dari telepon genggam saya. Ada panggilan masuk. Tertulis di sana “ibu”. Saya buru-buru mengangkatnya. Ibu memberitahu saya bahwa uang bantuan dari pemerintah baru saja cair. Betapa senangnya saya saat itu. Uang itu cair di saat yang sangat tepat. Akhirnya uang tersebut saya gunakan untuk mendaftar jalur mandiri UINMA.

Tiba saatnya hari pengumuman kelulusan. Aku dan kakakku tiba-tiba terbangun pada pukul tiga malam. Kami sibuk membuka berkas pdf yang dikirim oleh teman kakakku dan mulai mengetikkan nama saya di kolom search. Baru tiga huruf saya ketikkan sudah muncul nama saya di sana. Ya saya akhirnya dinyatakan lolos di jalur mandiri Bidikmisi UINMA setelah berbagai kegagalan yang saya terima.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

recent

Recent Posts

Total Pengunjung

Kritik dn Saran

Nama

Email *

Pesan *